.:: Menu ::.

.:: Shout Yours ::.

Nama :
Web URL :
Pesan :
:) :( :D :p :(( :)) :x

.:: Recent Entry ::.



.:: Calendar ::.

<< November 2009 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
01 02 03 04 05 06 07
08 09 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28
29 30


.:: Contact Me ::.



Yahoo! Messenger

If you want to be updated on this weblog Enter your email here:

.:: Company ::.





.:: Community ::.


.:: Banner ::.

Juara 1 Cerita Anak Fantasi 2006


.:: Jejala ::.




.:: Feeds-Stats ::.

RSS
Atom
rss feed



Free Counter
Hits


.:: Credits ::.

Friday, September 01, 2006
9 Naga


          


"Tanah ini sudah terlalu basah untuk ditambah dengan air mata"

Kata-kata Marwan pada awal film sudah cukup membuatku yakin bahwa ini adalah film bagus. Benar saja. 9 naga adalah kisah 3 orang anak manusia yang karena kejadian di masa lalunya, memilih untuk menjadi pembunuh bayaran di sebuah kawasan di Jakarta.

Adalah Marwan, seorang suami beranak satu, Donny, seorang kakak dari seorang adik dan Lenny yang tidak jelas asal-usulnya. Ketiganya dipertemukan dalam sebuah perkelahian dengan seorang preman yang mengganggu orang-orang. Perkelahian berakhir dengan terbunuhnya si preman. "Bahwa dengan darah, kita bisa menghasilkan uang" demikian kenang Donny kepada adiknya. Dari sana mulailah ketiga memilih jalan hidup sebagai pembunuh bayaran.

Setiap pilihan, pastilah mengandung konsekuensi. Itulah yang harus ditanggung oleh ketiganya tatkala mendapati peristiwa-peristiwa yang membuat ketiganya tidak bisa lagi bertolak dan mundur dari jalan semula. Donny, karena kebutuhannya akan biaya sekolah adiknya, terpaksa melakukan  'Job' lagi meskipun ia sudah mengambil 'cuti' disitulah ia terbunuh di tangan Marwan sendiri yang menyangkanya sebagai polisi.

Kejadian itu membuat Marwan merasa sangat terpukul dan menyesal. Mulailah ia merasa bahwa pilihan dan jalan yang diambilnya salah. ia ingin memperbaiki diri. Namun apa hendak dikata, sudah tidak ada titik balik. Demi membelikan Rumah baru kpd istrinya yang lumpuh yang sangat dicintai, Marwan membunuh 'bos'nya sendiri dan mengambil uangnya.

Tidak ada jalan untuk kembali, tidak ada jalan untuk lari. Setiap pilihan akan melahirkan konsekuensi. Marwan gugur tanpa bisa melihat kebahagiaan istri dan anaknya menempati rumah baru yang layak huni. Lenny kehilangan dua 'saudara'nya.

"Tanah ini sudah terlalu basah untuk ditambah dengan air mata" Ya. Tidak perlu menambah dengan air mata. Penyesalan tiada guna. 9 Naga adalah kisah tentang bagaimana menjalani pilihan-pilihan hidupnya. Sekali memilih, tidak akan pernah ada jalan kembali.

"Sebuah film yang akan membawa kita pada sebuah kesadaran bahwa segelap-gelapnya kehidupan seseorang, dia tetap seorang manusia biasa yang mempunyai rasa penyesalan, cinta dan keinginan untuk memperbaiki diri" -Lukman Sardi (Marwan)

"Film yang bercerita bahwa dalam hidup setiap orang harus memilih dan menjalani hidup dalam pilihannya" -Donny Alamsyah (Donny)

"Film yang menyadarkan kita bahwa uang bukan segala-galanya, tetapi peranan keluarga lah yang sangat berpengaruh dalam kehidupan sehari-hari kita. Film ini dengan jelas menunjukkannya.." -MArcel Anthony (Adik Donny)



dikirim pada 03:36 am Tulis Komentar?

Wednesday, March 29, 2006
[Film Review] Turtles Can Fly


       

Judul Film/Tahun    : Turtles Can Fly (2005)
Sutradara                : Bahman Ghobadi
Pemain                    : Soran Ebrahim (Sattelite), Avaz Latif (Agrin)
Produser                 : Bahman Ghobadi
Lokasi                      : Irak

Film Turtles Can Fly Mengambil lokasi di sebuah desa suku Kurdi di Irak, dekat dengan perbatasan Turki, beberapa waktu menjelang Negara itu diinvasi oleh Amerika Serikat. Sepanjang cerita berlangsung, akan terlihat sisa-sisa perang gurun yang sebelumnya telah terjadi di Irak (. Dan di sana, adalah tempat dimana banyak sekali ranjau darat yang tertanam yang sewaktu-waktu dapat meledak dan melukai siapapun yang menginjaknya. Banyak penduduknya yang merupakan korban, mereka kehilangan anggota badan.

Dalam suasana menjelang perang, penduduk desa lebih mementingkan untuk melihat berita ketimbang sajian hiburan di TV. Untuk itulah semua penduduk desa berusaha memasang antena yang paling kuat menangkap gelombang siaran berita di televisi.

Tersebutlah Seorang anak laki-laki berumur 13 tahun yang menjadi seorang pemimpin sekumpulan sekumpulan anak-anak yatim-piatu di camp pengungsi, ia dipanggil dengan nama 'Satellite' karena terbiasa menerima job pemasangan antena TV, sekaligus menjadi penerjemah berita bagi penduduk desa disana. Ia juga menerima job pembersihan 'ranjau darat' di daerah itu. Kehadiran seorang anak laki-laki cacat, kedua tangannya putus dan seorang gadis adiknya serta seorang anak kecil menjadi pemicu bergulirnya cerita. Anak cacat yang bernama Henkov adalah korban ranjau darat. Meski kedua tangannya putus, Henkov rupanya sangat lihai sekali dalam menjinakkan ranjau darat. Henkov ternyata mempunyai kemampuan untuk melihat ke masa depan.

Satellite Menaruh hati kepada Agrin, adik perempuan Henkov. Agrin gadis kecil mungkin umurnya baru 12 tahun, yang terjebak oleh ganasnya perang, kedua orang tuanya terbunuh akibat perang saudara di Iraq. Pada saat yang bersamaan ia mengalami tragedi yang lain, ia diperkosa beramai-ramai oleh tentara, sehingga pada usia yang sangat muda ia mempunyai anak. Pengungsi lain tidak menyadari bahwa seorang anak dalam gendongannya adalah anak kandungnya, bukan adiknya. Sudah berkali-kali Agrin mencoba bunuh diri karena tidak mampu menahan beban berat hidup. Namun setiap kali dia ingat kakaknya Henkov yang cacat, dan anaknya.

Henkov yang mempunyai kemampuan untuk melihat ke masa depan, mengatakan kepada Satelitte bahwa Amerika akan segera menyerang Irak, kabar ini langsung disebarkan kepada seluruh penduduk desa oleh satellite. Dengan segera penduduk desa berhamburan ke arah bukit. Tak berapa Helikopter Amerika datang menyebarkan leaflet-leaflet propaganda yang berisi bahwa kedatangan mereka adalah untuk menyelamatkan penduduk Irak dari rezim otoriter Saddam Hussein.

Agrin yang kehilangan masa kanak-kanak, yang sengsara hidupnya karena trauma perkosaan yang dialaminya berkali-kali mencoba bunuh diri. Ia menjadi pemurung, putus asa dan membenci anaknya. Berkali-kali ia mengatakan kepada Henkov untuk meninggalkan anaknya dengan harapan orang lain akan mengambilnya, tetapi niatnya selalu tidak disetujui oleh Henkov, karena Henkov sangat menyayangi anak itu. Sangat kontradiksi sekali dengan suasana masyarakat Kurdi yang bersuka ria menyambut jatuhnya Saddam. Akhirnya, Agrin membunuh anaknya dan kemudian ia sendiri bunuh bunuh-diri. Sebuah akhir yang sangat menyedihkan sekaligus mencengangkan.

Film Turtles Can Fly banyak dipuji di kalangan internasional dan mendapat beberapa penghargaan festival film, di antaranya nominasi penghargaan dari Asosiasi Kritik Film Australia untuk Film berbahasa asing terbaik 2005, dan mendapatkan Penghargaan Best Feature Film pada Festival film Berlin 2005

- adi toha -

dikirim pada 12:08 am Tulis Komentar?

Tuesday, March 28, 2006
[Film Review] OSAMA


        

OSAMA Judul Film           : OSAMA
Durasi                : 1’ 22’’
Sutradara           : Siddiq Barmak
Produser            : Siddiq Barmak, Julia Fraser,  Julie LeBrocquy
Lokasi                : Afghanistan

OSAMA

Terinspirasi dari kisah nyata, film Osama mengambil lokasi pada masa awal pemerintahan rezim Taliban, pada akhir perang Afghan tahun 2001. Pada masa itu Taliban memberlakukan hukum Islam yang keras dan cukup ketat. Diantaranya adalah adanya larangan bagi wanita untuk keluar rumah tanpa didampingi suami atau muhrimnya.

Tersebutlah tiga wanita Afghan yaitu seorang gadis berusia 12 tahun, seorang ibu serta seorang nenek yang hidup tanpa didampingi pria seorangpun. Kehidupan menjadi sulit karena tidak ada satupun dari mereka yang bisa keluar rumah untuk mencari nafkah. Sang nenek yang sangat mencintai cucunya mendorong agar cucunya memotong rambutnya dan memakai pakaian laki-laki agar bisa bergerak bebas. Gadis itu kemudian diberi nama Osama. Dan si ibu nekat mendatangi seorang teman almarhum suaminya dan menitipkan anaknya sebagai pembantu laki-laki pemilik toko makanan itu. Sebagai upah, si ibu minta dikirim roti untuk menyambung hidup mereka bertiga.

Malang tak dapat ditolak, si gadis yang tengah menyamar itu diwajibkan masuk ke asrama untuk anak laki-laki. Pada masa itu, Taliban rajin merekrut setiap anak laki-laki untuk diberi pendidikan agama dan militer. Di situlah penyamaran si gadis terbuka ketika dia mengalami menstruasinya yang pertama saat kena hukuman dengan digantung di dalam sumur. Dengan terbongkarnya penyamaran Osama, akhirnya ia dibawa ke pengadilan untuk diadili.

Pengadilan untuk Osama dilakukan di lapangan terbuka bersama dengan dua terdakwa lainnya yaitu seorang wartawan asing yang mengambil gambar demonstrasi para perempuan dan seorang perempuan yang dituduh melakukan zina.

Film arahan sutradara Siddiq Barmak dari Afghanistan adalah Film Afghanistan pertama, diproduksi sejak tumbangnya rezim Islam fundamentalis Taliban. Film ini meraih sambutan antusias di seluruh dunia disamping mendapat sambutan baik pula pada festival film Cannes 2002. Film ini berhasil meraih penghargaan Film berbahasa asing terbaik pada anugerah Golden Globe 2004.

Osama adalah potret dimana superioritas penguasa (laki-laki) merepresi rakyatnya, dan korban yang paling menderita adalah perempuan. Perempuan dibawah peraturan yang berkuasa di Afghanistan semasa Taliban, dilarang untuk keluar rumah dan bekerja. Tidak menjadi soal bilamana terdapat sosok laki-laki yang sanggup menjadi pelindung dan pemberi nafkah. Akan menjadi soal ketika dalam sebuah keluarga tidak ada satu pun sosok laki-laki seperti yang dialami oleh tokoh Osama dan keluarganya. Osama, hanya ditemani oleh seorang ibu dan neneknya yang lagi-lagi adalah seorang perempuan. Darimana mereka akan mendapat penghidupan sementara mereka dilarang untuk bekerja oleh pemerintah yang berkuasa.

Osama adalah sebuah perjuangan perempuan, dalam hal ini sebagai pihak yang tertindas dan teraniaya dalam mencoba bertahan hidup dan menemukan kebebasan dari ketidak adilan.

- adi toha -


dikirim pada 11:53 pm Tulis Komentar?

Friday, January 13, 2006
Innocent Voices - Review


            

Judul Film : INNOCENT VOICES

Sutradara : Luis Mandoki

Penulis Naskah : Oscar Torres, Luis Mandoki

Pemain : Carlos Padilla, Leonor Varella, Jose MariaYazpick, dll

Durasi : 120 menit


Selamatkan Anak Dari Perang


Betapa sedih suara hujan, Di atas rumah karton, Betapa sedih hidup seseorang, Di atas rumah karton // Anak-anak warna tanahku, Akan menjadi luka, yang dimakan cacing, melihat mereka tersiksa, terbeban dari siksaannya, di atas desa ini // Meninggalkan istrinya yang hamil, Di bawah kota, tertangkap dalam perangkap

Sepenggal syair lagu "Casas de Carton" (Rumah Karton) yang dilarang oleh pemerintah El-Salvador semasa terjadinya perang sipil pada kurun waktu 1980-an mengalun di sebuah rumah kayu kecil beratapkan seng, sementara suara desingan peluru, ledakan bom dan baku tembak antara pemerintah El-Salvador dan gerilyawan FMLN (Farabundo Marti para la Liberacion Nacional), terus terdengar, tidak peduli akan keberadaan seorang ibu yang tengah melindungi ketiga anaknya agar selamat dari baku tembak tersebut.

Begitulah pemandangan setiap malam di sebuah desa kecil di El-Salvador, tempat dimana gerilyawan petani dan rakyat melakukan pertempuran dengan tentara pemerintah El-Salvador. Dari sinilah kisah Chava berawal.

Chava (Carlos Padilla), seorang bocah yang beranjak 12 tahun, beserta seorang ibu dan dua saudaranya, mau tidak mau harus mengalami suasana mencekam setiap malam, berlindung dari desingan peluru di bawah kasur tempat tidurnya. Sepeninggal ayahnya, yang pergi ke Amerika untuk mencari kehidupan yang lebih baik, Chava harus menjadi orang laki-laki dewasa satu-satunya di keluarganya. Kakaknya seorang perempuan dan adik laki-lakinya masih kecil, selalu memanggil siapapun laki-laki dewasa yang mendatangi rumahnya dengan panggilan ’papa’ (ayah). Di masa itu, usia 12 adalah usia yang sangat berresiko. Secara berkala, tentara pemerintah mendatangi desa-desa dan sekolah-sekolah untuk mengambil paksa anak-anak laki-laki umur 12 untuk dilatih menjadi tentara sungguhan memerangi para gerilyawan. Hanya ada dua pilihan bagi anak-anak itu : menurut, atau mati. Pilihan yang lain adalah ikut bergabung menjadi gerilyawan.

Berbeda dengan film tentang perang yang lain, Innocent Voice mengambil sudut pandang dan dunia seorang Chava, seorang anak yang karena perang dan keadaan keluarganya, dituntut untuk menjadi dewasa sebelum masanya. Ibunya, Kella (Leonor Varella) memutuskan untuk bekerja menjahit baju di rumahnya sambil melindungi anak-anaknya, sedangkan Chava menjual baju-baju jahitan ibunya ke kota. Menyadari hasil jerih payah ibunya tidak mencukupi kebutuhan keluarganya, Chava sepulang sekolah bekerja menjadi kondektur bus kota. Suatu hari, tentara pemerintah mendatangi sekolahnya, memanggil satu persatu anak laki-laki yang telah berumur 12 tahun untuk dilatih menjadi tentara. Chava harus menjadi saksi satu persatu teman terdekatnya digiring untuk masuk ke dalam truk. Mereka pergi dan tidak akan pernah kembali lagi.

Kekuatan dari film ini terletak pada sosok Carlos Padilla yang memerankan sosok Chava dengan sangat baik. Sepanjang film, kita akan dibawa masuk ke dalam dunia seorang Chava sebagai seorang anak kecil yang suka berlari-larian di jalanan dan memanjat pohon, Chava sebagai satu-satunya lelaki paling tua di keluarganya dan dituntut untuk menjadi dewasa, Chava sebagai seorang Kondektur Bus, dan tentu saja Chava sebagai seorang remaja yang merasakan jatuh cinta pertama kali kepada seorang teman sekolahnya, Christina Maria, anak seorang guru baru di sekolahnya.

Suatu ketika tentara pemerintah datang ke desa tempat tinggal Chava melakukan rekruitmen paksa anak-anak kecil untuk dijadikan tentara. Berita rekruitment ini telah diketahui sehari sebelumnya oleh Chava dari seorang temannya yang anggota tentara gerilya. Bermaksud menyelamatkan anak-anak lain di desanya dari rekrutmen, Chava beserta teman-temannya menyebarkan selebaran ke seluruh rumah-rumah di desanya. Di selebaran itu dituliskan bahwa rekrutmen akan dilakukan besok, anak-anak harus segera bersembunyi. Jangan harap kita akan melihat cara penyebaran selebaran yang penuh dengan ketakutan dan ketegangan. Mereka melakukannya sembari bermain, yakni berlarian sepanjang jalan beraksi seperti layaknya seorang supir mengendalikan mobilnya. Selebaran-selebaran itu dimasukkan/ diselipkan di bawah pintu masing-masing rumah. Alhasil, ketika tentara pemerintah datang ke desa, mereka tidak menemukan seorang pun anak kecil yang bisa direkrut. Semula saya berpikir (dan mungkin penonton juga akan berpikir seperti saya) bahwa anak-anak itu pastilah telah lari bersembunyi ke hutan-hutan atau ke gunung, atau bersembunyi di bawah kolong tempat tidur atau lemari. Tetapi ternyata saya salah. Setelah sudut pengambilan gambar dilakukan lebih tinggi, tampak bahwa puluhan tubuh anak-anak kecil berbaring dengan diam dan tenang di atap rumah masing-masing. Cerdik bukan ?

Akhirnya, Chava bersama beberapa orang temannya memutuskan untuk bergabung dengan gerilya. Tanpa berpamitan kepada ibunya, Chava pergi ke gunung mencari markas gerilya. Tetapi nasib sepertinya tidak berpihak pada mereka. Malam ketika mereka bertemu dengan gerilyawan di gunung, seketika itu juga tentara pemerintah menyerang. Chava dan ketiga temannya tertangkap. Mereka digiring untuk dieksekusi. Disinilah mungkin adegan paling menyedihkan dan menegangkan terjadi. Dalam gerak lambat (slow motion) mereka digiring beberapa tentara, berjalan jauh melewati hutan-hutan, menyeberang sungai, menyusuri tepinya yang berbatu, melewati jalanan kota yang diguyur hujan, hingga sampai pada tempat eksekusi, di tepi sebuah sungai kecil. Puluhan mayat anak-anak tergeletak disana. Masih dalam gerak lambat, mereka berlutut, satu persatu ditembak mati dari belakang kepala. Sungguh menyedihkan sekali, terlebih pengambilan sudut kamera yang ”close up” pada wajah dan ekspresi anak-anak itu menjelang kematian hingga saat peluru menembus kepalanya dan mereka pun jatuh, mati.

Chava selamat. Sedetik sebelum peluru menembus kepalanya, sepasukan gerilya menembak tentara-tentara pemerintah yang hendak mengeksekusinya. Terjadilah baku tembak. Chava langsung berlari bersembunyi di balik pepohonan. Di tengah-tengah baku tembak, Chava melihat sepucuk senjata tergeletak di dekat tempatnya bersembunyi, sementara tak jauh dari situ, seorang tentara pemerintah tengah menembaki pasukan gerilya, dan tidak mengetahui keberadaan Chava. Chava mengambil sepucuk senjata itu, bersiap menembak. Tetapi, ketika tentara pemerintah itu membuka helmnya dan terlihat oleh Chava bahwa yang berada di balik seragam tentara itu adalah temannya sendiri, Chava bimbang. Akhirnya ia memilih untuk tidak jadi menembakkan senjatanya dan berlari meninggalkan senjatanya itu. Ia terus berlari, kembali ke desanya yang ternyata telah di bumi hanguskan. Sampai akhirnya ia bertemu dengan ibunya.

Innocent Voices” secara garis besar berkisah tentang keluarga dan anak-anak yang berusaha bertahan hidup di tengah peperangan. Bagaimana seorang ibu harus melindungi anak-anaknya dari kematian yang bisa datang setiap saat karena peluru dan bom, bagaimana seorang anak berjuang menghindari rekrutmen paksa pemerintah untuk berperang, bagaimana seorang anak harus merelakan masa kecilnya karena dihadapkan pada persoalan keluarga dan peperangan; dan bagaimana seorang anak harus berjuang, bertahan hidup dan menemukan dirinya di tengah peperangan. Film yang diangkat dari kisah nyata Oscar Torres, sang penulis skenario ini berhasil memenangkan 7 penghargaan dan 9 nominasi penghargaan festival film, diantaranya nominasi film berbahasa asing terbaik dari Mexico pada Piala Oscar 2005, Best Picture Audience Award- Seattle International Film Festival 2005, Jury Best Picture Award and Audience Award – San Diego Film Festival 2005 dan Carlos Padilla sebagai Aktor Terbaik San Diego Film Festival 2005. Sutradara Luis Mandoki sendiri telah dikenal perfilman holywood lewat film When A Man Loves A Woman (1990), Message In The Bottle (1999), dan Angel Eyes (2001).

Oscar Torres, penulis skenario dan pelaku kisah, lahir di Cuscatazingo, El Salvador tahun 1972. Pada umur 12 tahun, dia bergabung dengan gerilyawan FMLN melawan pemerintah. Pada 1986, saat berumur 14 tahun, dia melarikan diri ke Amerika serikat.

Sampai saat ini, lebih dari 300.000 anak-anak menjadi tentara di lebih dari 40 negara. ”Innocent Voices”, hanyalah salah satu hal kecil yang akan mengingatkan kita pada perang dan akibatnya terutama pada anak-anak dan masa depan mereka. Perang, bagaimanapun tidak akan menghasilkan tatanan yang lebih baik. Selamatkan anak-anak kita dari peperangan, apapun bentuknya.


-- adi toha --





dikirim pada 04:07 am sudah ada (3) komentar

Wednesday, January 04, 2006
Sejenak Dalam Labirin Buku


Mengapa hari ini kita mengenal Muhammad, mengenal Yesus, Mengenal Budha, Mengenal Plato, dan seabreg tokoh-tokoh besar dalam sejarah peradaban manusia yang tak pernah kita dengar, kita lihat dan kita rasakan kehadirannya di sisi kita ? Mengapa hingga hari ini kita masih mengamini apa yang mereka katakan tentang kebenaran dan menolak kesalahan dan ketidakbenaran yang mereka katakan dan lakukan ? Jawabannya hanya ada satu, karena tulisan.

Bayangkan seandainya berabad-abad lalu Al-Qur’an tidak dituliskan dalam lembaran daun, bayangkan jika seandainya Injil –perjanjian lama dan perjanjian baru—tidak dituliskan dalam lembaran-lembaran kertas, bayangkan jika seandainya Lembaran-lembaran atau manuskrip-manuskrip Wedha tidak pernah ada, bayangkan seandainya di reruntuhan kota tua Yunani tidak tertulis tentang keberadaan seorang cendekiawan bernama Plato, mungkin hari ini kita tidak akan pernah mengenal mereka dengan kebesaran, ide-ide dan pemikiran dan kebijaksanaan yang telah mereka torehkan dalam sejarah.

Benar apa kata Pramodya Ananta Toer, “Menulislah, selama engkau menulis, engkau tidak akan hilang dari masyarakat dan dari pusaran sejarah. Muhammad masih dikenal dan menjadi tauladan bagi seluruh umat Islam di dunia karena kisah kehidupan dan ajaran-ajarannya tertulis dalam Al-Qur’an dan berpuluh-puluh riwayat (hadist). Al-Qur’an yang sekarang ini kita baca dan menghiasi setiap rumah umat Islam, adalah sebuah bentuk pewarisan nilai dan ajaran dalam bentuk tulisan. Bisa dibayangkan seandainya pada masa Khalifah Ustman, tidak ada ijtihad untuk membukukan Al-Qur’an. Tentunya akan sangat sulit untuk memahami Islam hanya dari penuturan lisan dan bisa jadi kita tidak akan mengenal Muhammad dan Islam.

Tulisan; lebih luas lagi adalah buku menjadi salah satu cara yang paling efektif untuk mewariskan ide-ide dan pemikiran manusia agar dapat dikenang dan dimanfaatkan oleh manusia generasi berikutnya. Tulisan bisa juga digunakan sebagai sarana penyebaran pengetahuan dan proses pendidikan.

Scripta manent atau mengabadikan ide dalam bentuk buku mau tidak mau harus diakui telah ikut merubah perjalanan peradaban manusia sejak berabad abad lalu. Dengan apa kita bisa mengetahui hari-hari saat Adam –moyang manusia—menginjakkan kakinya di bumi, dengan apa kita mengetahui peristiwa ribuan tahun sebelum manusia diciptakan, lagi-lagi karena buku.

Buku, lebih dari sekedar kumpulan teks, huruf-huruf dan kalimat yang dituliskan dalam selembar kertas, tetapi lebih dari itu, sebuah buku memiliki ‘ruh’ yang dapat ditemui dengan melakukan sebentuk pergumulan intens dengannya. Dengan buku, dari satu titik kita dapat mengembara menembus batas ruang dan waktu, melihat, mendengar, mengetahui peristiwa yang terjadi ribuan mil jauhnya dari tempat kita berada; mengetahui peristiwa yang terjadi ratusan dan ribuan tahun sebelum keberadaan kita; pun kita dapat meramalkan peristiwa yang akan terjadi kemudian hari.

Pun buku diyakini dapat mengkonstruk bagaimana cara berpikir seseorang. world view atau pandangan dunia seseorang sangat dipengaruhi oleh buku-buku yang pernah mampir di matanya dan mendekam di otaknya. Ada satu tesis yang hendak penulis ungkapkan di sini bahwa : seseorang dapat dikenal dan dipahami hanya dengan melihat buku-buku apa saja yang tersusun di raknya. Meskipun tesis ini dirasa sangat lemah, karena manusia sangatlah kompleks, tetapi setidaknya, gambaran awal tentang kecenderungan karakter dan pemikiran seseorang dapat dilihat dari buku-buku apa saja yang pernah dibacanya.

Akan sangat berbeda ketika seseorang telah membaca sebuah buku tentang Filsafat misalnya, dengan seseorang yang hanya pernah membaca buku-buku tips atau panduan. World view keduanya akan jelas berbeda, demikian juga penyikapan dan pandangannya tentang manusia dan kehidupan.

Tesis kedua yang ingin penulis ajukan adalah bahwa buku adalah candu. Bukan hanya rokok atau obat-obatan psikotropika saja yang dapat menimbulkan kecanduan. Tetapi buku juga dapat menimbulkan semacam kecanduan. Sekali kita telah menyukai karya seorang penulis, maka dengan sendirinya otak kita kan terkondisikan untuk terus mencari dan berkeinginan untuk membaca tulisan lain dari penulis yang sama. Lihatlah bagaimana seorang penggemar Pramodya akan selalu memburu buku-buku karyanya.

Sebagaimana buku adalah candu, maka membaca adalah candu. Kegiatan membaca bisa menjadi semacam candu bagi seseorang yang telah menemukan kenikmatan dan keasyikan dengan kegiatan membaca. Memang, membaca adalah kebutuhan, tetapi hal ini belum begitu banyak disadari oleh orang. Sekali kita telah menemukan suatu keasyikan dan kenikmatan tersendiri dari kegiatan membaca, maka seterusnya kita akan kecanduan untuk membaca. Karena bisa jadi, semakin banyak kita membaca buku, maka kita semakin banyak tidak tahu, selalu ada sesuatu yang baru, yang lebih baru dan yang terbaru.

Jadi, siapapun kalian, yang telah menemukan kenikmatan dari buku, yang telah merasakan ‘candu’ dari buku, selamat menikmati ketersesatan dalam labirin pengetahuan yang tidak ada batasnya. Sekali kita memasuk labirin itu, selamanya tidak akan bisa keluar. Keputusan ada di tangan anda, apakah anda akan berhenti dan menjadi bodoh, sementara pengetahuan terus berjalan tak kenal lelah dan waktu, ataukah kita akan tetap berjalan dengan konsekuensi rasa haus kita akan pengetahuan tidak akan pernah terpuaskan.

Selamat menikmati ketersesatan dalam labirin buku dan pengetahuan. Sadarilah, menjadi lebih cerdas, memang menyenangkan.

(Tulisan ini pernah dipublikasikan di situs penulislepas.com, dalam rangka dokumentasi tulisan-tulisan, maka saya memuatnya lagi di blog ini, semoga tidak bosan bagi yang telah membacanya)

dikirim pada 04:50 am Tulis Komentar?

Buku, Meruangi Hidup, Menghidupi Ruang



Adalah buku sahabat terbaikku
Ia menemaniku lewati hari-hari
Setia bercerita tentang kehidupan dan kemanusiaan
Tentang perjalanan dan pencarian diri
Tentang pejuangan dan kemerdekaan
Ia layaknya kompas yang jelas menunjuk arah
Hingga aku yakin harus kemana melangkah
Ia layaknya jendela yang lebar terbuka
Hingga aku dapat melihat luas dunia
Dan ia layaknya perahu
Dengannya ku arungi lautan ilmu
Pun ia layaknnya cermin
Dengannya aku bisa melihat rupa diri
Tanpa kebohongan

Mungkin buku tidak berarti apa-apa bagi anda. Hanya sebuah kumpulan teks dan tulisan yang dapat dinikmati karena padanya ada cerita-cerita menarik yang menghibur dan dapat mengusir kejenuhan dan kepenatan pikiran. Atau sekedar tumpukan kertas yang berisi teks dan informasi yang kita butuhkan sebagai referensi yang setelah membacanya tidak berarti apa-apa lagi selain kembali menjadi tumpukan kertas. Oleh karena itu tidak perlu kiranya ada sebentuk kecintaan khusus padanya. Tak perlu kita menyediakan sebuah tempat atau ruangan khusus untuk menyimpan buku dengan cantik. Tak perlu juga kita menyisihkan sebagian uang yang kita punya untuk membeli buku. Rasanya tak perlu kita bersusah-susah untuk semua itu.

Tetapi bagi sebagian orang, kecintaan terhadap buku memang ada dan karenanya semua perlakuan itu perlu, karena buku adalah bagian yang tak terpisahkan dari hidup mereka. Buku sekalipun hanya sebuah buku tipis dapat mempengaruhi dan merubah hidup kita begitu dalam, menghadirkan sebuah dunia dan gambaran kehidupan yang sama sekali baru. Buku dapat pula memberikan cara pandang baru dalam melihat dunia dan kehidupannya. Buku dapat menjadi sahabat yang paling setia. Oleh karena itu layak kiranya jika ada sebentuk kecintaan dan perlakuan khusus pada buku dalam diri kita.

Sejenak kita menengok sejarah, di sana ada seorang pemimpin yang layak diteladani. Mohammad Hatta namanya, seorang bapak bangsa dan pendiri negara, sang proklamator Indonesia. Seorang pemimpin yang sepanjang hidupnya diisi dengan pembacaan yang mendalam akan realita bangsa. Dalam hidupnya, buku adalah sahabat terdekat. Di tengah hidupnya yang dibaktikan sepenuhnya pada bangsa ini, waktu yang tersisa dihabiskan di tengah buku-buku dan tulisan. Buku lah yang menemaninya ketika Belanda mengasingkan beliau di Banda Naira, terhitung 16 peti buku dibanwanya dalam pengasingan tersebut. Bahkan buku pula yang menjadi maskawin yang diberikan kepada sang istri tercinta. Buku berjudul Alam Pikiran Yunani yang baru selesai disusunnya menjadi persembahan terbaik yang diberikan dengan penuh cinta sebagai penanda bahwa dalam hidupnya kecintaan terhadap buku sebanding dengan kecintaaan terhadap sang istri tercinta. Buku lah yang yang membetuk dirinya menjadi seorang pemimpin yang santun, bersahaja, cerdas, tegas dan berwibawa. Padanya terdapat bukti bahwa membaca adalah akar pohon pengetahuan yang berbuah wibawa, melahirkan jiwa pemimpin.

*****

Masalah membaca buku, bukanlah tentang seberapa banyak uang yang kita habiskan untuk membeli buku. Membaca buku adalah kebutuhan –kata sebagian orang- karenanya kita harus merelakan atau paling tidak menyediakan anggaran khusus untuk pemenuhan kebutuhan tersebut. Bagaimanapun juga kebutuhan harus dipenuhi. Sebagian lagi menganggap bahwa membaca buku adalah sebentuk gaya hidup atau life style.

Saya sendiri merasa beruntung bisa bersahabat dengan buku, sebagaimana terlihat dalam sajak di awal tulisan. Perkenalan saya dengan buku dimulai sejak saya masih duduk di sekolah menengah atas. Sampai sekarang, ada beberapa buku yang menurut saya telah mengubah pandangan hidup saya. Dari buku “Berpikir dan Berjiwa Besar” karya David J Schwartz yang saya baca saat di SMU, “Tao Of Physics” karya Fritjof Capra, sampai “The Alchemist” karya Paulo Coelho yang telah menuntun saya menemukan legenda pribadi saya. Sejak itu buku menjadi sahabat terbaik saya. Saya semakin suka berdialog dan berguru kepada buku manakala ada sesuatu hal menarik yang ingin saya ketahui yang tiba-tiba saja terbersit di pikiran saya.

Sebagai seorang aktivis organisasi mahasiswa ekstra kampus, sudah menjadi keharusan dan kebutuhan sekaligus gaya hidup saya untuk menambah wacana, pemikiran dan pengetahuan saya seluas mungkin dengan membaca banyak buku. Buku-buku filsafat, teori-teori sosial, pemikiran keagamaan dan politik menjadi santapan saya. Tentunya tidak semua buku saya baca, hanya buku-buku yang sesuai dengan ideologi dan idealisme saya. Dari sinilah saya mulai berkenalan dengan Hassan Hanafi dengan Kiri Islam-nya, Karl Marx, dengan materialisme Dialektis Historis-nya, Arkoun, Freire, Descartes, dan tokoh-tokoh nasional seperti Tan Malaka, Soekarno, Soe Hok Gie, Gus Dur, serta tokoh lainnya bahkan Kahlil Gibran. Dengan membaca buku, perbedaan ruang waktu antara saya dengan mereka menjadi hilang dan seakan saya mengenal dekat dan memahami pikiran-pikiran mereka lewat karya-karya tulis mereka. Dalam bahasa aktivis, buku-buku itu seakan menjadi nyawa, menjadi sumber dari energi yang menggerakkan jiwa dan tubuh dalam dunia pergerakan. Buku seolah menjadi amunisi dalam memberondong lawan dalam diskusi, debat, ataupun aktivitas lainnya. Seorang aktivis tidak mungkin hidup tanpa buku.

Pada suatu waktu, saya menemukan sebuah buku tulisan Fritjof Capra yang berjudul Jaring-Jaring Kehidupan. Sebagai seorang mahasiswa fisika, saya tertarik dengan buku tersebut karena penulisnya adalah seorang fisikawan. Setelah saya membaca buku tersebut, ternyata saya menemukan dimensi yang berbeda dalam ilmu fisika yang saya pelajari. Pandangan atau paradigma saya dalam ilmu fisika kemudian berubah –dalam bahasa Capra menjadi lebih holistik. Ketertarikan saya terhadap Capra berlanjut ketika saya membaca buku pertamanya Tao Of Physics, sebuah buku fenomenal yang mengulas tentang kesejajaran fisika moderen dengan mistisme timur. Selanjutnya buku ketiganya yang berjudul The Turning Point (Titik Balik Peradaban) pun tidak ketinggalan saya baca. Disamping Capra, ada juga buku tentang filsafat sains yang berjudul “Membaca Pikiran Tuhan” yang ditulis oleh Paul Davies, yang mengulas argumentasi sains dalam mendekati kebenaran Sang Pencipta. Dengan membaca buku-buku tersebut ada semacam cakrawala baru dalam memandang sains dan segala kemajuannya, karena sains secanggih apapun ia kalau dipahami secara benar akan menuju kepada kebenaran Sang Pencipta, bukan malah menafikan keberadaanNya.

Sampai saat ini pun, ketika aktivitas saya dalam organisasi sudah tidak demikian padat lagi, buku tetap mendapat ruang dalam hidup saya. Buku bagi saya adalah energi yang menghidupi setiap aktivitas saya dalam menjalani kehidupan. Pun ketika kehidupan terasa sangat sepi dan membosankan, buku tetap menjadi sahabat terbaik. Karenanya saya menyediakan tempat khusus bagi koleksi buku di dalam rumah saya. Meskipun koleksi buku saya tidak banyak dan belum layak untuk dianggap sebagai perpustakaan, namun saya ingin memperlakukan buku sebagaimana ia telah memberikan perubahan terhadap saya. Pernah suatu ketika saya membaca sebuah tulisan di depan sebuah toko buku di kampus UIN Jakarta, “Sebuah ruangan tanpa buku, bagai tubuh tanpa jiwa”. Semoga dengan itu saya bisa memberi jiwa pada ruangan di rumah saya.

Sekarang, bagaimana dengan anda ? apakah buku cukup berarti bagi anda ? Ataukah buku tidak berarti apa-apa ? atau bahkan anda sama sekali tidak pernah mengenal buku ? jika anda merasakan kecintaan dan persahabatan yang sama dengan buku, mungkin kita bisa berbagi cerita, berdiskusi dan saling meminjamkan buku. Atau kalau buku tidak berarti apa-apa, tidak ada salahnya untuk memulai dan sama sekali belum terlambat untuk memulai berkenalan dan menyelami keindahannya. Biarkan lah ia meruangi hidup dan menghidupi ruangan anda.

(Tulisan ini pernah dipublikasikan di situs penulislepas.com, dalam rangka dokumentasi tulisan-tulisan, maka saya memuatnya lagi di blog ini, semoga tidak bosan bagi yang telah membacanya)


dikirim pada 04:46 am sudah ada (1) komentar

Percakapan Dengan Orang-Orang Biasa


Ada begitu banyak hal di sekitar kita yang tentunya sering kita jumpai : orang-orang, kejadian-kejadian, benda-benda dan apapun itu yang sejenak singgah di mata kita. begitu seringnya kita mengalami hal-hal itu, hingga pada akhirnya kita menganggapnya biasa-biasa saja, tak ada yang istimewa.

Tentunya kau sering melihat seorang ibu penjual rokok atau minuman yang ada di gerbang kampusmu, atau dimanapun itu yang biasa kau temui dalam keseharianmu. Kau tak kenal siapa dia. Yang kau tahu hanyalah bahwa dia seorang ibu pedagang. dan hubunganmu atau interaksimu dengan dia hanya sebatas ketika kau membutuhkan apa yang dia jual : rokok, minuman, permen, kerupuk, atau apalah itu. Pun kau juga tentunya sering naik angkot bukan ? ke kampusmu, ke tempat temanmu, atau kemana pun itu. meski kau sering berganti-ganti angkot (karena ada begitu banyak angkot), terkadang, untuk beberapa kali, kau naik angkot yang sama, kau masih ingat wajah sopirnya. Dan sekali lagi, hubungan atau interaksimu dengannya hanya sebatas ketika kau membayar ongkos, selesai. Dan itu biasa saja.

Atau barangkali kau punya tempat makan favorit di gerbang kampusmu, di sekolahmu atau dimanapun itu. Kau tentunya sering mengunjungi tempat itu, bertemu dengan orang-orang yang sama yang melayani pesanan makanmu. Tetapi, sekali lagi, mungkin hubungan atau interaksimu dengan mereka hanya sebatas ketika kau membayar uang makanan, selesai.

Pernahkah kau berpikir, kenapa semua itu terjadi, adakah itu sebuah kebetulan belaka ? atau sebuah peristiwa bebas yang tidak ada pengaruh apapun untuk kita, atau tidak ada sesuatu apapun yang dapat kita ambil pelajaran dari sana.

Pedagang kaki lima, pedagang asongan, sopir angkot, pedagang makanan yang sering kau jumpai; tahukah kau kisah hidup mereka ? mengapa mereka bisa sampai di situ, di sebuah ruang waktu saat kau menjumpainya. Mungkin kau tidak tahu karena interaksimu dengannya hanya sebatas interaksi fungsional. Cobalah lebih dari itu, ajak mereka berbicara, tentang dirimu, dirinya, tentang apapun itu. Ada banyak yang bisa kau ambil dari sana. tentang perjalanan hidup, tentang penderitaan, tentang kebahagiaan, tentang dunia. pelajaran yang dapat kau ambil dari mereka lebih daripada apa yang kau dapat dari buku. mereka adalah pelaku sebenarnya kehidupan. Ada haru, ada senyum, ada tawa, ada canda, ada kesabaran, ada ketegaran, ada perjuangan.

Kau boleh saja bangga dan membanggakan diri ketika mungkin kau pernah berbicara dengan seorang tokoh besar : rektor, dekan, artis, politikus, anggota dewan, penyanyi atau siapalah public figur lainnya. Tapi..pernahkah kau mencoba (cobalah) bercakap-cakap dengan orang-orang biasa : ibu-ibu pedagang rokok dan minuman yang sering kau temui di Jalanan (atau di gerbang kampusmu), sopir angkot yang mengantarkanmu ke tujuan, pedagang gorengan, pedagang asongan, tukang warung, tukang indomie, pedagang buku di gerbang kampus, mungkin. Kau akan menemukan hal-hal yang luar biasa disana yang bisa kau petik pelajaran untuk kehidupanmu. percayalah, hal itu tidak kalah mengasyikkan dengan percakapan dengan orang-orang besar. Dan kau bisa berbangga untuk itu.

Bukan berarti orang-orang biasa mempunyai kehidupan yang biasa-biasa juga. bisa jadi justru kehidupan merekalah yang luar biasa. kau bisa belajar dari sana. bukalah matamu, bukalah telingamu, rasakan oleh setiap indera yang kamu punya, kehidupan ini adalah sesuatu yang luar biasa. jangan kau anggap biasa-biasa saja, jangan kau biarkan biasa-biasa saja. kita hidup tidak lama kawan. ada rentang waktunya. ada waktu ketika kita harus berpisah dengan kehidupan, seindah apapun itu.



dikirim pada 04:43 am Tulis Komentar?

Google Modules
|| HOME || DAILY || SHORT STORY || POET-POETRY || BOOK REVIEW || FILM REVIEW || UNCATEGORIZED || JUST PROFILE || GALLERY ||


modified template by jalaindra since Agustus 2006
from the original template by blogdrive design